•  
  • Air Untuk Kehidupan, Pergunakan Dengan Bijak
Rabu, 20 November 2013 - 05:59:49 WIB
Manfaat Giant Sea Wall Diragukan
Diposting oleh : database
Kategori: Berita Balai - Dibaca: 49755 kali

SEMARANG - Pakar Hidrolika Undip Dr Robert J Kodoatie masih ragu terkait manfaat giant sea wall sebagai upaya mencegah banjir, rob, dan abrasi. Hal tersebut seiring diskursus pengerjaan bangunan pantai dengan nilai anggaran besar ini di Kota Lunpia. ”Biayanya juga mahal bisa mencapai triliunan rupiah.

Tapi apakah akan benar-benar memiliki manfaat untuk Kota Semarang. Itu yang membuat saya masih ragu karena butuh mendalami banyak kajian bila ingin direalisasikan,” tuturnya. Cendekiawan yang meraih master University of Alberta, Edmonton, Kanada dan doktoral Colorado State University, Fort Collins Amerika Serikat ini berpendapat perlu diurai penyebab kebencanaan yang sedemikian akrab dengan warga di kawasan bawah ini.

Banjir menjadi potret buram di sudut-sudut kota bila hujan deras mengguyur. Selebihnya, rob menjadi ancaman nyata pemukiman warga di pinggiran pantai.

Pendangkalan

Robert menerangkan, banjir disebabkan beberapa kemungkinan. Mulai dari pendangkalan aliran sungai hingga kondisi daratan yang lebih rendah dari kawasan laut. Pendangkalan alur sungai penyelesaiannya adalah melalui pengerukan. Namun ketika berbicara masalah posisi daratan dan lautan yang tidak seimbang persoalannya adalah kondisi alam.

Pada fase ini sulit rasanya melawan alam dengan mengandalkan teknologi asal-asalan. Kondisinya di Kota Semarang diperparah dengan laju penurunan muka tanah (land subsidence) yang kian tanpa kendali. Situasinya pun mengkhawatirkan, karena tingkat penurunan di wilayah Semarang Utara misalnya mencapai 11 sentimeter per tahun.

Dari hasil kajian menunjukkan, penurunan muka tanah di Kota Semarang disebabkan beberapa faktor. Mencakup kondisi geologi alam, bangunan-bangunan besar yang menyebabkan tekanan ke bawah semakin kuat, dan pengambilan air bawah tanah. Faktor itu dominan menyebabkan air dalam pori-pori tanah akan terperas keluar, sementara permukaan tanah juga kian turun.

Tanah yang memiliki rongga seakan tanpa kekuatan berangsur angsur ambles tiada kasat mata. Beberapa persoalan dan latar belakang ini yang membuatnya merasa belum yakin pengerjaan bangunan pantai menyelesaikan masalah. Selain karena dampaknya berujung reklamasi mega proyek giant sea wall bakal diikuti rencana proyek pompanisasi besar-besaran. Pompanisasi sebagai antisipasi andaikata banjir muncul di pelbagai titik lantaran air tak bisa terbuang ke laut.

Kondisi ini tambah memantik pertanyaan di benaknya apakah perdebatan mengenai pemanfaatan giant sea wall masih akan berlanjut. Robert Kodoatie juga menepis anggapan pemanfaatan bangunan pantai ini modelnya akan serupa dengan di Belanda.

Menurutnya, terdapat banyak perbedaan bila harus membandingkan Kota Lunpia dengan Negeri Kincir Angin. Perbedaan itu mencakup permasalahan yang dihadapi masing-masing wilayah. Ketika Negeri Belanda sebatas mengalami permasalahan tinggi permukaan laut ketimbang daratan, Semarang lebih kompleks.

Selain ancaman rob dari waktu ke waktu persoalan kota ini dihadapkan kemunculan banjir dari hulu dan kebiasaan buruk membuang sampah sembarangan. ”Saya dulu malah pernah punya saran mengenai model front water. Istilah ini demi mengakrabkan masyarakat dengan kehidupan air di lingkungan sekitar tempat tinggal. Tentunya, lingkungan yang sehat dengan kondisi air yang bersih karena situasinya kondisi daratan di wilayah ini memang lebih rendah dari lautan,” tuturnya.

Pakar Keairan Undip Dr Sri Sangkawati menambahkan, giant sea wall secara fisik berbentuk bangunan pantai. Umumnya, di negara-negara maju menyerupai tanggul raksasa. Bangunan di beberapa tempat bahkan memenuhi kaidah artistik demi keindahan tata ruang kota. Walhasil lokasi tersebut lantaran memiliki keunikan malah dipromosikan sebagai objek wisata. (H41, H71, H35-72)

sumber : suaramerdeka.com



0 Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)